Film Romeo Rinjani Masih Dibully Karena Poster Seksi Tapi Tak Masuk Akal

- Film Romeo Rinjani Masih Dibully Karena Poster Seksi Tapi Tak Masuk Akal
Film Romeo Rinjani Masih Dibully Karena Poster Seksi Tapi Tak Masuk Akal

Berita Film Terkini: Film terbaru terbitan Starvision, ‘Romeo+Rinjani’ masih terus diperbincangkan. Pasalnya, poster film tersebut dibilang seksi tapi tak masuk akal. Akibatnya, film ‘Romeo Rinjani’ pun terus dihujani bully di dunia maya.

Beberapa bulan sebelumnya poster film ini sudah sempat beredar dan mendapat reaksi negatif dari Netizen dan kalangan pecinta lingkungan sempat mengendap. Alih-alih mengadakan perbaikan, pihak studio ternyata masih merilis versi poster yang sama.

Dalam poster film yang rilis perdana kemarin, 23 April 2015, ‘Romeo+Rinjani’ kembali menuai hujatan dan sentilan yang pernah muncul. Poster tersebut masih memperlihatkan para pemain utamanya, Deva Mahenra, Kimberly Ryder dan Alexa Key dengan latar belakang Gunung Rinjani. Lantas, apa yang salah dari poster tersebut?

Yang salah dan jadi bahan bully adalah pakaian yang dikenakan Alexa Key di poster tersebut. Alexa memakai kaos tanpa lengan dengan siluet dada rendah ditambah dengan hotpants berbahan dasar jeans super mini. Meski ia melengkapi penampilannya dengan tas ransel besar dan juga tongkat untuk menopang tubuhnya, orang yang biasa naik gunung pasti akan berpikir jika Alexa akan kedinginan tanpa harus sampai puncaknya. Jelas kesalahan fatal dalam promosi.

Berbagai komentar negatif pun dilancarkan para netizen yang mempertanyakan kemampuan sang sutradara dalam membuat film. Yang ditonjolkan bukanlah Gunung Rinjani tapi justru keseksian para bintangnya.

“Sutradaranya nggak bisa membedakan ya, mana baju ke mal mana baju untuk mendaki gunung,” ujar seorang netizen sesuai rilis Merdeka (20/02/2015).

Alexa sendiri mengaku sangat senang dan bangga dengan film ini karena ia mendapat pengalaman baru yaitu mendaki gunung.

“Pas ditawarin film Romeo & Rinjani ini nggak ada persiapan, karena kau termasuk orang jarang olahraga. Jadi proses syutingnya benar-benar menguras tenaga, untung bisa sampai puncak Rinjani dan bikin bangga. Aku jalan kaki enam jam sampai puncak, ini pencapaian baru, kebetulan aku suka berpetualang juga,” ungkapnya.

Jenis film bertema alam dan terutama dengan latar kegiatan naik gunung mungkin awalnya berniat baik. Keinginan untuk menumbuhkan kembali kecintaan akan alam jelas mulia. Namun dampak negatif yang muncul belakangan malah ironis.

Masyarakat terbukti belum cukup dewasa untuk tren naik gunung kembali. Ajang pacaran dan aksi buang sampah sembarang kian menjamur di beberapa gunung yang ada di Tanah Air. Memang bukan 100 persen kesalahan para sineas. Perlu kesadaran bersama dalam mengatasi masalah ini. Awan Jakarta. YPWS.