Jepang Dihebohkan Epidemi Demam Babi Dengan Tujuh Kasus Terkini

Jepang Dihebohkan Epidemi Demam Babi Dengan Tujuh Kasus Terkini

Awanjakarta.com – Jepang dihebohkan dengan adanya Epidemi Demam Babi dengan tujuh kasus terkini. Bukan kejadian yang pertama, karena negara Jepang pernah menyatakan demam babi telah mereka berantas pada tahun 2007 silam.

Epidemi demam babi yang melanda sebuah prefektur Jepang tengah sejak September lalu hingga kini masih terus mengamuk dengan kasus ketujuh yang diidentifikasi Selasa. Penemuan ini lantas mengarah ke pemusnahan 1.600 babi, sesuai penjelasan pihak berwenang setempat.

Setelah tes mengkonfirmasi kasus baru di sebuah peternakan di kota Kakamigahara, Prefektur Gifu, pejabat prefektur meminta pengiriman pasukan Pasukan Bela Diri Darat untuk memusnahkan dan mengubur babi. Hal ini untuk pencegahan meluasnya penyebaran kasus ini.

Pemerintah prefektur juga berencana untuk memusnahkan sekitar 150 babi di pasar grosir di kota Gifu di mana selusin babi dikirim dari peternakan Kakamigahara, serta sekitar 900 babi di sebuah peternakan di kota Motosu. Peternakan itu telah membeli sekitar 80 anak babi dari situs wabah terbaru awal bulan ini.

Dalam kasus keenam di Seki, juga di Gifu, dikonfirmasi pada bulan Desember, sekitar 470 pasukan GSDF bergabung dengan pejabat prefektur untuk memusnahkan tak kurang dari 8.000 babi. Hal itu diakui juga oleh pihak pemerintah daerah prefektur Gifu.

Menteri pertanian, Takamori Yoshikawa, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia telah menginstruksikan para pejabat untuk menyusun langkah-langkah baru untuk pengendalian penyakit yang lebih ketat. Hal ini perlu segera mereka lakukan juga untuk mengurangi dampak kecemasan diantara masyarakat.

Takamori juga menambahkan jika Jepang tidak akan dapat mengekspor daging babi ke Uni Eropa. Hal itu berdasarkan perjanjian perdagangan bebas bilateral yang akan mulai berlaku pada hari Jumat kecuali jika demam babi diberantas di negara tersebut.

Epidemi Demam Babi yang tak berbahaya bagi manusia

Wabah saat ini yang dimulai di kota Gifu pada bulan September adalah yang pertama di negara itu sejak tahun 1992. Penyakit ini, yang juga telah terdeteksi pada babi hutan baik di Gifu dan Prefektur Aichi, tidak mempengaruhi manusia bahkan jika hewan yang terinfeksi dikonsumsi.

Setelah wabah dimulai, Prefektur Gifu memberlakukan pembatasan pada pengiriman babi dan mengangkut tanaman pakan dan kotoran di daerah dekat peternakan yang terkena dampak, tetapi mencabut pembatasan yang tersisa pada hari Sabtu. Meski tidak mempengaruhi manusia, namun masyarakat mencemaskan kasus
ini yang bisa saja mengalami perkembangan hingga nantinya merugikan kesehatan manusia juga.

Gubernur Gifu, Hajime Furuta, menyatakan kekecewaannya pada hari Selasa, dengan mengatakan “sangat disesalkan bahwa kasus baru terjadi ketika kami meningkatkan langkah-langkah untuk mengatasi penyakit ini.”

Kasus terbaru “akan kembali menghentikan pengiriman babi yang telah dimulai kembali sedikit demi sedikit,” keluh seorang pejabat asosiasi produsen daging babi Gifu. Awan Jakarta. YPWS.