Napi Kelas Berat Di Inggris Melunak Karena Main Gamelan

Main Gamelan ternyata bisa mengurangi sikap agresif napi di Inggris. Pic: Good Vibrations.
Main Gamelan ternyata bisa mengurangi sikap agresif napi di Inggris. Pic: Good Vibrations.

Saat main gamelan sangat tak terlalu diminanti di Indonesia sendiri, perangkat musik
tradisional yang satu ini malah bisa berkibar di negeri jauh. Hal ini bahkan ikut dirasakan oleh para napi atau warga binaan di sana.

Ribuan kilometer jauhnya dari negara Indonesia, dalam sebuah ruangan berdinding rapat dan berpintu besi penjara. Sayup-sayup terdengar irama yang “membius” telinga. Semua yang mendengarkan sampai terpukau. Hal itu dikabarkan sendiri oleh The Independent pada saat mereka mengunjungi Penjara Brixton, Inggris.

Alunan musik merdu itu ternyata berasal dari seperangkat gamelan di salah satu ruangan penjara. Seperangkat alat perkusi Jawa yang selama ini kita kenal sebagai pengiring berbagai pertunjukan seni tradisional memang dimainkan juga di penjara Inggris.

Alat musik berlaras slendro dan pelog tersebut dimainkan oleh para narapidana yang mayoritas bertampang gahar dan tengah menjalani hukuman berat untuk menebus kesalahan mereka. Tak asal main, mereka bisa melakukan hal ini dengan tenang dan penuh penghayatan.

“Bisa terasa begitu lembutnya. Anda dijamin akan jadi dibawa dalam kondisi serupa trance saat memainkannya. Kita yang mendengarkan seperti jadi berada di dunia lain. Saya sendiri belum pernah menjumpai alat musik seperti ini sebelumnya,” ujar Nick Chernikeeff, salah satu penghuni Penjara Brixton yang dihukum karena kasus pembunuhan tersebut.

Dikabarkan jika dalam beberapa tahun ini Chernikeeff cs sudah aktif berlatih gamelan saat lakoni masa hukuman mereka. Dalam sepekan, minimal tiga kali mereka memainkan alat musik yang berasal dari negara yang bahkan belum pernah mereka kunjungi.

“Saya sendiri berasal dari lingkungan kriminal di Irlandia Utara. Kehidupan saya dulu sangat keras sekali. Di sini (Penjara Brixton), saya malah bisa menemukan ketenangan setelah saya memainkan gamelan,” ujar Francis Howe, napi lain yang dibui karena memperdagangkan obat-obat terlarang.

Main Gamelan dapat sambutan hangat

Gamelan sendiri bukanlah merupakan alat musik populer di Inggris. Meski begitu, sebagian dari masyarakatnya sudah banyak mengenal gamelan. Salah satu sosok yang berjasa dalam memperkenalkan gamelan dengan masyarakat Inggris adalah Rahayu Supanggah (63), sosok maestro musik tradisional asal Solo yang pernah meraih penghargaan Komposer Terbaik lewat film “Opera Jawa” di Festival Film Asia 2006 silam.

Pada 1987, sosok Supanggah memperkenalkan gamelan di Inggris. Sambutannya ternyata sangat positif. Mayoritas penonton sampai dibuat terkagum-kagum dengan irama gamelan yang begitu damai dan khas meski pelan.

Beberapa pihak dimana salah satunya Alec Roth tergoda untuk membentuk komunitas pecinta gamelan di negara tersebut. Pada tahun itu juga berdirilah Southbank Gamelan London. Komunitas tersebut kemudian berkembang menjadi yayasan dan terus membesar.

“Masyarakat Eropa mulai tertarik dengan gamelan bukan hanya karena bunyi-bunyian yang
dihasilkannya saja. Mereka justru lebih kagum dengan bagaimana cara memainkannya,” terang Supanggah.

Berita - Napi Kelas Berat Di Inggris Melunak Karena Main Gamelan

Tak sama dengan alat-alat musik lainnya, gamelan memang tidak bisa dimainkan sendiri-sendiri. Mulai dari gong, kendang, saron, demung semuanya harus dimainkan bersamaan untuk hadirkan harmoni. Tidak ada satu pun yang menonjol dan diperbolehkan menonjol saat memainkan gamelan.

Cara bermain bersama-sama seperti itu sontak menantang orang-orang Eropa yang terkenal cukup individualistis. Nilai plus lain dengan bermain gamelan adalah mereka jadi bisa saling mengakrabkan diri antara satu dengan yang lain.

Main Gamelan mulai diajarkan ke penjara-penjara Inggris

Diantara masyarakat Inggris yang tergila-gila pada gamelan tersebut terselip sosok Cathy
Eastburn. Di tahun 2002 silam, Cathy memutuskan untuk terbang ke Solo dan berguru dengan sejumlah maestro gamelan. Cathy lantas menyadari jika gamelan mempunyai sebuah “kekuatan” tersembunyi yang luar biasa.

Bukan hanya mengajarkan kebersamaan dalam harmoni, gamelan juga ikut mengajarkan prinsip-prinsip hebat bagi kesehatan jiwa. Dengan rutin bermain gamelan, maka watak agresif bisa perlahan direduksi, kemampuan berkomunikasi meningkat, sampai jiwa menjadi lebih tenang dari sebelumnya.

Pada 2003 atau setelah kembalinya ke Inggris, Cathy lantas membuat proyek yang dinamai Good Vibrations. Misi utama gerakan ini adalah untuk membantu dan memberikan terapi kepada para narapida di penjara-penjara Inggris. Melalui terapi musik gamelan, sifat anarkis dan merusak para narapida tersebut diharapkan bisa hilang atau setidaknya bisa dikurangi.

Cathy sendiri akui tidak pernah memaksa para narapidana binaannya untuk langsung menyukai musik- musik tradisional Jawa, tapi cukup belajar untuk memainkannya. Ternyata eh ternyata nih ya, karena sering memainkan gamelan, pelan tapi pasti mulai tumbuh perasaan suka terhadap irama khas gamelan diantara para warga binaan tersebut.

Beberapa narapida berangsur-angsur mulai menunjukkan perubahan tingkah laku lebih positif dari sebelumnya. Martin Gwynn, sosok mantan penghuni Penjara Dovegate di Staffordshire, menjadi salah satu diantaranya.

“Sekarang ini saya jadi lebih mudah berkomunkasi dengan orang asing dan saya mulai berani menatap mata mereka saat berbicara. Hal ini sangat membantu saya dalam mencari pekerjaan selepas menjalani masa-masa hukuman,” ujar Gwynn saat diwawancarai pihak BBC.

Pengalaman John Pawson, guru musik dan pengajar gamelan, juga tak kalah menarik. Ia sendiri sempat menggelar workshop gamelan di Penjara Peterborough, di wilayah timur Inggris. Ia lantas membimbing napi perempuan temperamental yang kerap melukai diri sendiri dengan gunting, silet, atau benda-benda tajam lainnya yang jelas sangat berbahaya.

“Hanya dalam tempo beberapa bulan saja mengikuti terapi main gamelan, perilaku merusaknya bisa menurun drastis,” ucap Pawson dengan antusias.

Belakangan, jumlah penjara yang tertarik untuk menggelar terapi gamelan sejak pertama kali diperkenalkan semakin meningkat. Dikabarkan jika saat ini jumlahnya bisa lebih dari 33 penjara. Beberapa institusi lain di luar penjara juga mulai tertarik untuk bisa memanfaatkannya. Bagaimana dengan pengembangan di Indonesia? Awan Jakarta. YPWS.