SANG PATRIOT, Buku Berlatar Kisah Nyata Perjuangan yang Mencuri Perhatian

 

SANG PATRIOT, Buku Berlatar Kisah Nyata Perjuangan yang Mencuri Perhatian

Awanjakarta – Buku novel berdasarkan kisah nyata di tanah air akhir-akhir ini mulai mengemuka. Tapi ada satu yang saat ini mulai mencuri perhatian di media sosial karena berlatar kisah nyata perjuangan, SANG PATRIOT.

Buku karya Irma Devita ini memang belum diadaptasi ke layar lebar, namun menyimak kisah nyata dari sang kakek, seorang  Mayor Mochamad Sroedji, awanjakarta nilai sangat direkomendasikan untuk menjadi sebuah fim yang pantas untuk dinantikan.

Diterbitkan oleh Inti Dinamika Publisher dengan cetakan pertama bulan Februari 2014, buku ini sudah mulai dipasarkan hingga ke negara tetangga. Dari dalam negeri sendiri, buku ini mulai mencuri perhatian banyak grup didalam media sosial.

Ia dengan lugas menyampaikan kembali ragam sisi lain perang kemerdekaan Indonesia era 1942 hingga 1949. Bagian sejarah kelam dalam perjuangan di tanah air.

Latar belakang Irma Devita sebagai praktisi di bidang hukum, tidak menjadikannya terasa canggung membuat novel ini. Ia juga merupakan cucu  dari pahlawan yang sosoknya diabadikan  dalam  monumen di depan kantor bupati Jember ini.

Selain kedekatan emosionalnya dengan sang nenek (tidak lain adalah Rukmini), Irma Devita  juga mengolah data yang akurat dengan  para keluarga tokoh lain yang dikisahkan dalam novel ini, semisal dengan Letkol dr. RM, sahabat dekat Mayor Sroedji.

Sang Patriot dibuka dengan masa kecil Moch Sroedji  yang lahir dari ibunya, Amni, yang cantik dan ayahnya yang pedagang bernama Hasan. Sroedji  adalah pemuda berbadan tegap yang cerdas hingga  membuatnya tidak kesulitan untuk bersekolah di HIS dan Ambactsleergang (setara dengan sekola teknik),  yang mengharuskan muridnya memiliki strata sosial berdarah biru. Berkat pamannya, Pusponegoro, Sroedji berhasil mengenyam pendidikan yang setara dengan anak-anak Belanda dan para pejabat pada masa itu.

Walaupun cerdas, namun Sroedji tidak mewarisi bakat sang ayahnya sebagai pedagang. Ia kerap pulang dengan tangan hampa, atau terkadang memberikan barang jualannya dengan alasan iba.  Di pasar tempatnya berjualan itu pula, Sroedji bertemu dengan Rukmini, seorang wanita cantik dan juga pintar. Mereka pada akhirnya menikah.

Demi pegabdiannya pada Sroedji, Rukmini rela melepaskan mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Leiden, menjadi seorang pakar di bidang hukum. Namun, kecerdasan Rukmini membantu banyak Sroedji yang sering bertukar pikiran dengannya saat membahas dinamika politik yang sedang terjadi baik saat masa pergolakan menjelang kemerdekaan, pendudukan Jepang, atau bahkan saat masa agresi Belanda,  tidak lama setelah disepakatinya perjanjian Renville.

Rukmini memang kemudian harus berpisah dengan Sroedji yang bertugas ke luar kota untuk memimpin Batalyon Alap-alap. Ia dan pasukannya bergerilya dan hijrah menempuh ratusan kilometer menapaki hutan dan melalui pegunungan yang terjal agar terhindar dari kejaran Belanda.  Rukmini tetap tegar, mengeraskan hatinya untuk melepaskan kepergian Sroedji pergi berperang.

Perjalanan kisah Sroedji dan Rukmini tidak selalu membahas pertempuran dan adu taktik dengan Jepang atau Belanda. Novel ini juga mengangkat sisi lain dari seorang pejuang yang juga manusia biasa yang punya emosi dan kepekaan nurani. Ada sisi lain seperti persahabatan, kegigihan, kesederhanaan,  pengorbanan, romantika asmara dan penghianatan yang terjalin apik dalam  alur ceritanya.

karakter lain yang cukup mencuri perhatian dalam buku ini adalah Somad. Ia adalah seorang Komandan KNIL yang berhasil menyusup ke dalam barisan Batalyon Alap-alap. Kelicinan Somad, yang menyembunyikan jati dirinya membuatnya berhasil membocorkan satu persatu taktik dan rencana yang sudah disusun matang oleh Sroedji dan kawan-kawan. YLWS.