Smartphone Asal China Gionee Resmi Dinyatakan Bangkrut

Smartphone Asal China Gionee Resmi Dinyatakan Bangkrut

Awanjakarta.com – Smartphone Asal China Gionee secara mengejutkan telah resmi dinyatakan bangkrut. telah melalui masa-masa sulit untuk sementara waktu belakangan ini, dan perusahaan itu akhirnya mengajukan kebangkrutan.

Didirikan pada tahun 2002 di Shenzhen, Guagdong, Gionee merupakan salah satu merek awal yang menawarkan telepon selfie-sentris dan punya pangsa pasar yang baik di China. Gionee merupakan salah satu pemain disegani di negara seperti Taiwan, Bangladesh, Aljazair, Filipina, Nigeria, Vietnam, Myanmar, Nepal, dan Thailand, terutama di India.

Di negara India mereka sanggup menantang merek-merek mapan lain seperti Nokia dan Samsung. Di anak benua, mereka bahkan bisa mengklaim memiliki kehadiran ritel di lebih dari 42.000 toko dan memiliki 600 pusat layanan eksklusif. Apa daya semua itu tak sanggup menyelamatkan mereka dari kebangkrutan.

Pengadilan Tiongkok di Shenzhen telah menerima aplikasi likuidasi dari pembuat smartphone yang berbasis di Shenzhen tersebut. Mereka dikabarkan berutang dana senilai 20,2 miliar Yuan Cina (hampir $3 miliar) kepada 648 kreditor, termasuk pada bank, pemasok, dan para agen.

Kabar tersebut sudah muncul sebulan setelah sebuah laporan di The South China Morning Post yang mengatakan jika pendiri, ketua dan kepala eksekutif perusahaan, Liu Lirong, diduga telah menggunakan aset perusahaan untuk berjudi di kasino yang terdaftar di Hong Kong di Saipan.

Saat menanggapi laporan sebelumnya jika kehilangan perjudian 10 miliar yuan (US $ 1,44 miliar) telah mengakibatkan jatuhnya Gionee, Liu lantas mengakuinya, sesuai rilis dari Entrepreneur.com pada (27/12/2018). Liu berpartisipasi dalam perjudian di Saipan.

“Tetapi bagaimana mungkin saya bisa kehilangan sampai sebanyak itu (10 miliar yuan)? Jika itu memang benar, saham Imperial Pacific (pemilik kasino) seharusnya ikut melonjak,” ujar Liu

Lui juga menambahkan jika perusahaan telah kehilangan uang sejak awal tahun 2013 silam, dengan jumlah kerugian rata-rata tidak kurang dari 100 juta yuan per bulan antara 2013 dan 2015. Kerugian bulanan terus melebar jadi tidak kurang dari 200 juta yuan dalam dua tahun terakhir, sesuai rilis The South China Morning Post.

Smartphone Asal China Gionee sempat mencoba berjuang

Jatuhnya Gionee, yang sempat mengamankan posisi keenam di belakang Apple untuk penjualan handset di Cina tahun lalu, dimulai pada tahun 2016, dengan perangkat mengalami penurunan kualitas dan lonjakan harga yang tidak dapat dijelaskan. Ia masih berhasil menjual sekitar 40 juta handset pada tahun itu.

Selanjutnya menjelang tahun 2017, kondisi terus memburuk karena tekanan dari para pemimpin pasar, Vivo, Huawei, dan Oppo, terus meningkat. Para kompetitor sanggup menawarkan ponsel yang lebih menarik pada titik harga yang digunakan Gionee untuk bersaing.

Gionee sendiri sempat menyewa konsultan untuk merampingkan dan merestrukturisasi perusahaan dalam upaya untuk memperkuat diri dari ancaman kebangkrutan. Menurut laporan bulan Oktober oleh agensi penelitian Counterpoint, empat merek—Huawei Technologies, Oppo, Vivo dan Xiaomi terus mendominasi penjualan smartphone di China, punya 78 persen pangsa pasar gabungan pada kuartal ketiga. Meski telah coba bertahan, Gionee akhirnya menyerah juga. Awan Jakarta. YPWS.