TV dan Keluarga

Awanjakarta – TV  alias televisi dan media audio visual kaca lainnya, seperti laptop komputer, atau ponsel, kini sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Bila listrik padam atau siaran televisi mengalami gangguan, sebagian orang tidak bisa tenang.

Selanjutnya bisa ditebak, banyak yang kemudian kebingungan mencari aktivitas pengganti acara nonton televisi. Walaupun kini sudah banyak kemudahan teknologi sebagian pelarian seperti HP atau Smartphone, namun tetap sebagai solusi sementara. Ya, kini alternatif TV bertebaran di mana mana, seperti internet pada tablet. Tapi efek TV ini masih terasa.

Bisa Berakibat Buruk

Fenomena pengaruh TV pada anak-anak dan remaja pun tak berbeda jauh dengan orang dewasa. Anak-anak seolah tak dapat lagi berjarak dengan produk teknologi komunikasi ini dengan sedemikian betahnya duduk berjam-jam di depan TV.

Yang cukup mengkhawatirkan, para orang tua jarang yang menyadari bahwa kebiasaan anak menonton televisi ini bisa berakibat buruk. Bahkan, banyak orang tua yang senang dan bersyukur ketika anaknya yang masih balita atau usia SD betah berlama-lama nonton televisi.

Alasan rasa bersyukur negative tersebut karena dengan anak menonton televisi, orang tua dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tanpa gangguan, tidak kelelahan mengawasi si anak, atau tidak capai melayani berbagai permintaan anak.

Namun, demi kelancaran bekerja atau kenyamanan tersebut, para orang tua sesungguhnya tengah membenamkan anak ke dalam potensi bahaya yang amat dahsyat.

Merenggut Waktu Pertumbuhan Anak

Anak-anak sekarang menonton televisi selama berjam-jam. Banyak waktu kebuang percuma, mereka menghabiskan malam mereka menonton segala jenis program ‘favorit’  di televisi. Pada saat mereka tinggal sampai larut malam untuk menonton film. Kegiatan ini menambah jam terjaga bagi anak anak ini.  Artinya saat waktu istirahat, di mana kesehatan mental tengah di bangun, dan tubuh serta otak mendapat asupan istirahat dan pengembangan, malah kena distrak televisi.

Bahkan bila kena kecanduan televisi membuat mereka kehilangan waktu mereka untuk bermain. Anak-anak agak harus melakukan kegiatan fisik selama malam hari. Mereka harus pergi ke ruang terbuka untuk bermain dengan teman atau menghabiskan waktu membaca beberapa buku bagus. Selain itu, menonton televisi merugikan penglihatan seseorang. Kegiatan membaca buku, offline dari televisi ini dapat membantu mereka menjalani hidup sehat.

Menonton televisi menyebabkan gangguan perkembangan, mempengaruhi isian dan fakultas dari otak yang bertanggung jawab untuk kemampuan bahasa.

Anak-anak yang menonton televisi lebih banyak dan membaca kurang, menunjukkan kesulitan dalam membayar perhatian atau berkonsentrasi pada pelajaran. Anak-anak menghabiskan berjam-jam dalam menonton televisi rentan terhadap terpengaruh oleh gangguan defisit perhatian.

Bahaya televisi Pada Anak-anak

Di tambah lagi, Anak-anak selalu ingin tahu dan mencoba-coba. Mereka senantiasa belajar dan meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka belajar dari orang tua, teman-teman sebaya, pengasuh atau pembantu rumah tangga, juga dari tayangan televisi dan video.

Ketika mereka banyak menonton tayangan televisi maka mereka banyak belajar dan meniru dari media ini. Sedangkan, Anda dapat menakar sendiri bagaimana kualitas mayoritas tayangan televisi dan video. Televisi dipenuhi tayangan yang tidak edukatif, seperti kekerasan, pornografi, mistik, horor, komedi slapstick. Termasuk tayangan video porno yang dapat dengan mudah diunduh dari internet.

Itu artinya, televisi merupakan sumber pembelajaran yang buruk bagi anak. Artinya pula, bersama televisi, anak-anak banyak belajar hal buruk yang kemudian ditirunya dalam polah tingkahnya. Selain karena masa kanak-kanak adalah masa imitasi, mereka pun belum memiliki kemampuan untuk menarik garis tegas antara dunia nyata dan maya, juga memilah mana yang baik atau buruk. Mereka menganggap apa yang dilakukan anak-anak lain atau orang dewasa boleh juga mereka lakukan.

Tak heran, kita lazim menemui anak-anak balita lancar mengucapkan kosakata semacam pacar atau cinta. Belum lagi hasil penelitian yang menunjukkan perilaku kasar dan agresif pada anak, yang setelah diteliti lebih lanjut ternyata merupakan dampak dari menonton tayangan televisi atau video.

Tayangan televisi dan video tak hanya berdampak buruk pada pembentukan perilaku dan karakter anak-anak, tetapi juga pada kesehatan mereka. Menonton televisi membuat anak kurang aktivitas fisiknya. Tentu ini berpengaruh terhadap kualitas kesehatan anak. Ditambah macam-macam kudapan, si anak berpotensi mengalami obesitas.

Kesehatan mata juga akan terganggu jika terlalu lama berada di depan layar televisi. Kebiasaan menonton televisi atau video terlalu lama juga dapat menghambat kemampuan sosial dan komunikasi anak. Berada di rumah sepanjang waktu sambil menikmati tayangan televisi membuat anak enggan bersosialisasi dengan lingkungan sehingga kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasinya.

Tips-Tips Melindungi Anak dari Dampak Buruk Tayangan televisi:

  1. Dampingi anak saat menonton televisi. Segera ganti saluran televisi dan beri pengertian jika anak menonton tayangan yang tidak sesuai untuk mereka.
  2. Tetapkan batasan maksimal waktu menonton televisi dalam sehari, misalnya 1 atau 2 jam. Disiplinlah dengan batasan ini dan jangan berkompromi, bahkan jika anak merengek ingin menonton televisi.
  3. Berilah keteladanan. Tidak ada gunanya orang tua melarang anaknya menonton televisi atau video jika mereka sendiri atau orang-orang tua di lingkungan si anak justru gemar menonton televisi atau video.
  4. Libatkan anak dalam pekerjaan-pekerjaan, misalnya mencuci, memasak, atau menyapu. Anak akan senang dan bertambah pengetahuan serta keterampilannya.
  5. Ajak anak bermain, misalnya tebak-tebakan, mengisi teka-teki silang, atau ular tangga sehingga mereka melupakan televisi.
  6. Ganti TV dengan VCD atau DVD yang mendidik, tetapi jam menontonnya tetap harus dibatasi secara konsisten.
  7. Waspadai iklan dan film anak. Tak semua film anak ramah anak. Banyak film kartun berisi adegan kekerasan atau kata-kata yang “tidak pantas”. Begitu juga dengan iklan.
  8. Ajaklah anak beraktivitas di luar rumah, seperti olahraga, berkebun, atau rekreasi.