Ahli Gizi: MSG Tidak Berbahaya Bagi Tubuh Manusia

Ahli Gizi telah menerangkan jika MSG Tidak Berbahaya bagi tubuh manusia. Penggunaan MSG atau yang kerap disebut micin ke dalam satu porsi makanan sendiri hingga kini masih dianggap menakutkan oleh banyak orang. MSG kerap dianggap merupakan bumbu penyedap rasa yang tidak menyehatkan dan berbahaya bagi tubuh manusia.
Ahli Gizi telah menerangkan jika MSG Tidak Berbahaya bagi tubuh manusia. Penggunaan MSG atau yang kerap disebut micin ke dalam satu porsi makanan sendiri hingga kini masih dianggap menakutkan oleh banyak orang. MSG kerap dianggap merupakan bumbu penyedap rasa yang tidak menyehatkan dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Awanjakarta.com – Ahli Gizi telah menerangkan jika MSG Tidak Berbahaya bagi tubuh manusia. Penggunaan MSG atau yang kerap disebut micin ke dalam satu porsi makanan sendiri hingga kini masih dianggap menakutkan oleh banyak orang. MSG kerap dianggap merupakan bumbu penyedap rasa yang tidak menyehatkan dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Ahli Gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rahmi Dwi Hapsari, S. Si. T, S.Gz, mengatakan bahwa penyedap makanan yang satu ini sejatinya terbuat dari garam natrium yang berasal dari glutamat. Karena berasal dari bahan-bahan yang aman, MSG layak disebut sebagai penyedap yang tidak berbahaya bagi tubuh, justru bahan yang diperlukan bagi tubuh.

“Boleh saja dikonsumsi, karena terkandung garam yang jelas dibutuhkan oleh tubuh manusia,” jelasnya. Meski begitu tetap disarankan agar kita memilih garam untuk menambahkan rasa asin ke dalam masakan yang diracik saja. Hindari sudah memasukan garam, kemudian kita memasukan MSG agar terasa lebih gurih lagi. “Karena bagaimana pun, garam masih jauh lebih baik ketimbang MSG,” tegasnya.

Senada dengan penjelasannya, menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hardinsyah, klaim MSG berbahaya dianggap salah dan tidak terbukti. Ia mengungkapkan, lembaga- lembaga kesehatan dunia semacam The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) hingga Kementerian Kesehatan RI menyatakan MSG aman dikonsumsi.

Hardinsyah menduga bahwa ada kesalahan persepsi atas penelitian yang dilakukan oleh peneliti Washington University, Dr John W. Olney hingga ada anggapan mengonsumsi MSG dapat menurunkan kinerja otak.

Olney sendiri menguji MSG terhadap tikus putih, namun dilakukan dengan cara menyuntikannya ke bawah kulit. Cara ini dikritik karena tidak lazim, di mana MSG umumnya diasup melalui makanan. Dosis yang diberikan kepada tikus percobaan itu juga sangat tinggi, dan tidak mungkin diterapkan pada manusia.

Hasilnya jelas tidak mengherankan, karena dosis yang tinggi, maka berdampak pada kerusakan otak tikus tersebut. “Dugaan saya, dari penelitian tikus tadi dikonotasikan, dipelintir, dan jadi mitos. Padahal kita tak mungkin kuat mengasup MSG dengan dosis yang terlalu tinggi,” ungkap Hardinsyah.

Bagaimana awal mula salah paham ini?

Hal ini bermula dari salah paham istilah Sindrom restauran Cina yang merupakan kumpulan gejala seperti sakit kepala, mual dan mati rasa yang diyakini muncul setelah seseorang makan Chinese foods atau makanan China di Amerika Serikat.

Bahan dalam Chinese foods yang dituding menjadi penyebabnya adalah bumbu yang disebut monosodium glutamat, atau lebih dikenal sebagai MSG alias micin. Ketenaran dalam konotasi negatif monosodium glutamat ini berawal pada tahun 1968 ketika Dr Ho Man Kwok menulis surat kepada New England Journal of Medicine mengenai pandangannya tentang kemungkinan penyebab sindrom dia alami setiap kali makan di restoran Cina di negara tersebut.

Secara khusus, Dr Ho Man Kwok menggambarkan perasaan mati rasa di bagian belakang lehernya yang kemudian bisa menyebar ke lengan dan punggung, serta jantung berdebar. Kwok lantas berspekulasi jika penyebabnya bisa saja kecap. Tapi, dugaan ini dikesampingkan karena dia juga memakai kecap yang sama di rumah, namun tidak merasakan efek yang sama seperti micin.

Kwok lantas menduga (kali ini dengan perasaan yakin) bahwa gejala yang dialaminya disebabkan oleh monosodium glutamat yang umum digunakan di berbagai restoran Cina. Surat Kwok menjadi viral, mendorong berbagai studi ilmiah, terbitnya buku yang mengekspos ‘kebenaran’ tentang MSG, buku masak anti-MSG, dan bahkan dorongan agar restoran Cina pasang pengumuman bahwa mereka tidak menggunakan MSG dalam masakan mereka.

Monosodium glutamat sendiri adalah garam natrium dari asam glutamat. Profesor kimia dari Universitas Tokyo bernama Kikunae Ikeda yang menemukannya pada tahun 1908 silam. MSG adalah garam yang paling stabil yang terbentuk dari asam glutamat dan salah satu yang terbaik dalam memberikan cita rasa umami.

Nah, Umami sendiri artinya gurih. Suatu istilah rasa yang juga diperkenalkan oleh Ikeda, di luar empat rasa dasar manis, asin, asam dan pahit. Glutamat dalam MSG adalah asam amino umum yang secara alami ada di berbagai macam makanan termasuk tomat, keju parmesan, jamur kering, kecap, sejumlah buah-buahan dan sayuran dan bahkan air susu ibu.

Ikeda lantas mengisolasi zat itu dari kombu rumput laut kering, kemudian menambahkan sodium. Sodium adalah salah satu dari dua unsur dalam garam meja, yang memungkinkan glutamat dalam bentuk bubuk tetap stabil.

Hal itulah yang kemudian kita sebut monosodium glutamat dan membuat Kikunae menjadi orang yang sangat kaya. Bumbu berbasis MSG-nya, Ajinomoto, kini ditemukan di hampir semua meja makan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Setelah surat Kwok viral, hewan dan manusia lantas menjadi sasaran penelitian untuk menguji bahayanya MSG. MSG diberikan kepada objek-objek penelitian dalam dosis besar, baik secara oral maupun intravena. Hal ini ikut dilakukan oleh Dr John W. Olney. MSG Tidak Berbahaya Bagi Tubuh Manusia.

MSG Tidak Berbahaya bagi tubuh manusia dalam kadar normal

Berdasarkan penelitan dari Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (SEAFAST Center) IPB pada 2007 silam, konsumsi MSG harian orang Indonesia sekitar 0,7 gram per orang per hari.

Nah, jumlah ini masih lebih sedikit dari konsumsi MSG di Amerika Serikat kurang dari 1 gram per orang per hari dan Jepang 2 gram per orang per hari. Hardinsyah lantas mengatakan WHO dulu sempat membatasi konsumsi harian MSG di bawah 5 gram.

Namun, penelitian selanjutnya tidak menemukan adanya efek berbahaya saat mengonsumsi berlebih. “Sehingga disebutkan batasan hariannya secukupnya, karena tidak sampai menemukan batas atas. Nah, secukupnya tadi batas optimum yang dirasakan manusia, yaitu ketika 0,4 persen dari berat.”

“Sederhananya mau buat nasi goreng 100 gram, jadi membutuhkan sekitar 0,4 persen atau 0,4 gram MSG. Kalau digunakan lebih dari itu? Enaknya jadi menurun, kalau sangat kurang? Juga tidak seenak itu.”

Kesimpulannya, selama dikonsumsi dengan kadar yang normal, micin atau MSG tidak berbahaya bagi tubuh dan kesehatan otak. Artikel MSG Tidak Berbahaya Bagi Tubuh Manusia ini juga sekalian menjadi ralat atau perbaikan bagi artikel yang sudah sempat diterbitkan sebelumnya. Awan Jakarta. YPWS.